0:00 / 0:00

🚨🇷🇺🇯🇵 Berita Kilat Darurat Super🚨 Jepang mengumumkan niat menandatangani perjanjian damai dengan Rusia Sejak Perang Dunia II, Jepang dan Rusia belum menandatangani perjanjian damai karena sengketa panjang soal penggabungan Kepulauan Kuril oleh Uni Soviet. Singkatnya, ini adalah laporan kilat bahwa "Jepang telah mengumumkan niat menandatangani perjanjian damai dengan Rusia," dengan latar belakang masalah pascaperang yang belum terselesaikan (masalah Kepulauan Kuril / Wilayah Utara). Latar belakang sejarah - Hubungan Jepang–Rusia setelah Perang Dunia II: Pada 1945, Uni Soviet (kini Rusia) menduduki Kepulauan Kuril (sebutan pihak Jepang: Wilayah Utara) dari Jepang. Akibatnya, Jepang menandatangani perjanjian damai dengan Sekutu lewat Perjanjian Damai San Francisco (1951), tetapi belum menandatangani perjanjian damai formal dengan Rusia. Alasannya adalah masalah wilayah ini. Jepang menuntut pengembalian Pulau Etorofu, Kunashiri, Shikotan, dan Kepulauan Habomai; negosiasi sudah berlangsung lebih dari 70 tahun tanpa kemajuan. - Negosiasi sejauh ini: Deklarasi Bersama Jepang–Soviet 1956 mengisyaratkan kemungkinan pengembalian sebagian, tetapi macet karena Perang Dingin dan benturan klaim wilayah. Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, hubungan Jepang–Rusia semakin memburuk, dan Jepang ikut sanksi ekonomi terhadap Rusia. Teks menekankan kemungkinan mengakhiri "status perang yang belum terselesaikan" selama bertahun-tahun itu. Berita terbaru dan verifikasi Pengumuman ini bukan fiksi; ini berita nyata. Sekitar 24 Oktober 2025, Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, menyatakan tegas dalam pidato di Diet bahwa ia akan "mempertahankan niat menandatangani perjanjian damai dengan Rusia setelah masalah wilayah diselesaikan." Sebagai tanggapan, Kremlin mengatakan "menyambut" ini, dan tanda-tanda dimulainya kembali negosiasi mulai terlihat. PM Takaichi adalah konservatif yang bertujuan mempertahankan jalur pro-AS tradisional sambil menjadikan perbaikan hubungan Jepang–Rusia sebagai pilar diplomasi. - Waktu latar: Terkait pelantikan Takaichi sebagai PM (awal Oktober 2025). Dengan perang Rusia di Ukraina yang berlarut dan sanksi Barat yang berlanjut, Jepang memprioritaskan pasokan energi yang stabil (seperti ladang minyak Sakhalin). Perjanjian damai akan membuka jalan bagi hak perikanan, sumber daya Arktik, dan perluasan perdagangan. - Dampak potensial: - Geopolitik: Meredakan ketegangan di kawasan Pasifik dan Arktik. Mempengaruhi segitiga AS–Tiongkok–Rusia (kekhawatiran AS jika Jepang mendekat ke Rusia). - Ekonomi: Penciptaan lapangan kerja lewat pengembangan bersama (perikanan, pariwisata, tenaga angin). Berdasarkan kesepakatan masa lalu, investasi berskala beberapa triliun yen diperkirakan. - Tantangan: Oposisi dalam negeri terhadap konsesi wilayah (terutama penduduk Hokkaido). Pihak Rusia juga bersikap keras bahwa "pengembalian seluruh pulau mustahil." Reaksi terhadap unggahan Banyak reaksi positif, dengan pujian atas makna historis yang menonjol: - "Peristiwa besar yang bisa mengakhiri perang yang belum terselesaikan sejak 1945. Lebih dari 30 putaran negosiasi mungkin akhirnya membuahkan hasil" (@geraldwayne) - "Gerakan historis yang mengubah geopolitik regional. Berdampak pada Pasifik dan Arktik" (@abdullah_razouk) - "Efek ekonomi besar: manfaat bagi kedua negara di perikanan, pariwisata, dan pengembangan sumber daya" (@B28929Bennett) Ada juga suara skeptis: "Apakah Jepang masih di bawah pendudukan AS?" (@sch86131) dan "Amerika mungkin menekan" (@TomSoede). Secara keseluruhan, unggahan ini melambangkan titik balik hubungan Jepang–Rusia dan menyebar cepat sebagai berita internasional. Presiden Putin #Putin #Trump Presiden Trump Perdana Menteri Takaichi

Video yang diposting oleh @hasibiro_maga di X (dahulu Twitter) (26 Oktober 2025 ・ ニュース ・ 0:41 ・ #Putin #Trump). Tonton dan unduh di XCLYP.

Komentar

Memuat…

Video Lainnya